Jumat, 23 Mei 2008

Ikan Nilem (Osteochilus hasseltii)


Klasifikasi Ikan Nilem (Osteochilus hasseltii)
Menurut Anonymousb (2008), klasifikasi ikan Nilem adalah sebagai berikut: Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Class : Actinopterygii fishes
Subclass : Neopterygii
Order : Cypriniformes (Anonymousa, 2007)
Family : Cyprinidae
Genus : Osteochilus
Species : Osteochilus hasseltii (Valenciennes in Cuvier and Valenciennes, 1842)
Pengadaan Induk Nilem
Induk ikan Nilem betina yang telah berusia 1-1,5 tahun sudah dapat dipijahkan dan ikan Nilem jantan dapat dipijahkan pada usia 8 bulan. Induk ikan Nilem yan memiliki berat 100 gram dapat dipijahkan setiap 3 bulan sekali.
Ikan Nilem betina yang sudah matang telur terlihat perutnya membesar, jika diraba terasa lunak, dan jika diraba dengan tekanan pelan kea rah anus akan keluar cairan jernih kekuning-kuningan. Sedangkan ikan Nilem jantang yang telah dewasa kelaminnya jika perutnya ditakan ke arah anus akan mengeluarkan cairan putih susu dari lubang genitalnya.
Sebelum dipijahkan induk ikan Nilem sebaiknya dipelihara secaraterpisah atau dipelihara kolam pemberokan selama 4-7 hari. Induk ikan Nilem sebaikknya hanya dipijahkan maksimal 6 kali dan selanjutnya digantikan dengan induk yang baru.
Cara Pembiakkan
Ikan Nilem dapat dipijahkan dalam kolam yang memiliki aliran deras. Untuk itu di depan pengeluaran air kolam pemijahan perlu diberi aliran air yang deras sebagai perangsang agar ikan Nilem melakukan pemijahan. Berkaitan dengan kemungkinan perbedaan kondisi daerah yang menyangkut sumber air, dikenal beberapa cara ikan nilem sebagai berikut:
Cara Galunggung
Pembiakan ikan Nilem cara galunggung membutuhkan sebuah kolam pemijahan berukuran 1,0 m x 2,0 m dan kolam penetasan seluas 20m2. untuk daerah atau lokasi yang memperoleh suplai air agak keruh dan berlumpur, air yang dimasukkan ke kolam pemijahan dan penetasan harus melalui kolam pengendapan terlebih dahulu. Dengan demikian kemungkinan Lumpur mencemari telur hasil pemijahan dapat dihindari.
Kolam pemijahan memerlukan kedalaman 0,5m untuk daerah sekitar. Memasukkan air dan kedalaman 0,15m untuk daerah sekitar pengeluaran air. Daerah pengeluaran air perlu dipasangi batu-batu kerikil dan ditanami rumput. Selain itu, didepan pipa pengeluaran air dipasang saringan untuk mencegah induk ikan Nilem masuk ke kolam penetasan. Pipa tersebut merupakan pipa yang menghubungkan antara kolam pemijahan dan kolam penetasan.
Kedalaman kolam penetasan 0,5m dan dasar kolam diberi alas pasir. Pasir yang akan diberikan untuk alas harus dicuci terlebih dahulu dan dikeringkan. Sebelah kolam penetasan dibuatkan kolam kecil dibawah saluran kolam penguras. Kolam kecil tersebut dapat dipasangi kantong dari kain untuk penangkapan benih ikan Nilem.
Jika kolam pemijahan dan kolam penetasan sudah siap, induk ikan Nilem dapat dilepas ke kolam pemijahan. Selanjutnya, aliran air yang masuk ke kolam pemijahan diperbesar untuk mempercepat proses pemijahan. Pemijahan induk ikan Nilemumumnya berlangsung menjelang subuh. Pemijahan terjadi di bagian kolam yang dangkal di depan pipa pengeluaran air.
Telur-telur hasil pemijahan yang telah dibuahi terbawa oleh aliran air ke kolam penetasan. Induk ikan nilem yang telah bertelur pada pagi harinya dapat ditangkap dan dikembalikan ke kolam pemeliharaan induk. Telur-telur yang yang bertumpuk di daerah pemasukan air kolam penetasan sebaiknya di daerah pemasukan air kolam penetasan sebaiknya diratakan dengan bantuan sapu lidi. Kemudian, kolam penetasan diberi rumpon-rumpon atau daun pisang untuk mengurangi panas sinar matahari dan jatuhan dari hujan.
Dalam waktu 1-2 hari, telur akan menetas dan mencapai usia 5-7 hari benih ikan Nilem sudah dapat dipungut. Pemungutan ikan Nilem dapat dilakukan dengan mengambil daun pelindungdan dibelakang pipa penguras dipasang bentangan kain halus ukuran 0,50m x 0.50m yang lekukannya tenggelam dikolam kecil atau salran air. Tutup pipa penguras dibuka dan benih ikan yang terapung kain karena terbawa aliran air dapat diambil sedikit demi sedikit dengan menggunakan cangkir untuk dipindahkan ke waskom untuk penampungan benih.
B. Cara Tarogong
Pembiakan ikan Nilem cara Tarogong tidak digunakan kolam pemijahan yang khusus, tetapi satu kolam digunakan untuk pemeliharaan induk, pembesaran, dan sekaligus untuk pemijahan. Untuk pemijahan di kolam dibuatkan kolam tersendiri di sudut kolam yang dihubungkan dengan pipa pengeluaran. Di depan pipa pengeluaran air diberi kerikil dan kedalaman kolam sebaiknya 0,15m
. Selanjutnya, kolam pemijahan dipasangi saringan anyaman bambu yang berlubang 1 cm, sehingga induk ikan tidak dapat keluar lewat pipa. Jika pemijahan sudah berlangsung di sudut kolam, sebaiknya sudut kolam diberi rumpon atau ditutup daun pisang.
Pipa pengeluaran air dihubungkan dengan kolam penampungan telur yang berukuran 2,0m x 2,0m dengan kedalaman 0,25m. Kolam penetasan dapat diusahakan di lokasi lain, tapi dasar kolam penetasan diusahakan berpasir dan memperoleh air yang jernih. Kolam penampungan telur dapat juga digunakan untuk kolam penetasan.
Apabila akan memijahkan induk ikan Nilem, sebaiknya pemasukan air ke kolam induk ikan ditutup selama satu minggu. Permukaan air kolam dibiarkan menurun karena penguapan atau perembesan. Sementara kolam penampungan telur dan kolam penetasan dibersihkan dan dasarnya yang berpasir dicuci. Pencucian pasir dilakukan dengan cara diaduk-aduk sambil diairi agar lumpur terbawa aliran air keluar kolam.
Jika semua persiapan telah diselesaikan, kolam pemeliharaan induk ikan diisi air sebanyak-banyaknya. Setelah permukaan air sudah cukup tinggi, pipa pengeluaran dibuka menuju kolam penetasan. Umumnya, ikan Nilem akan memijah pada dini hari di depan pipa pengeluaran yang berhubungan dengan kolam penampungan telur.
Jika banyak induk yang dipijahkan, maka akan banyak telur yang bertumpuk-tumpuk di kolam penampungan telur. Oleh karena itu, telur-telur yang bertumpuk-tumpuk perlu diambil dengan menggunakan dipnet bergaris tengah 15 mm, kemudian dimasukkan ember dan dipindahkan ke kolam penetasan yang dilindungi daun pisang. Benih ikan Nilem yang telah berusia 5-7 hari sudah dapat dipungut dan dipelihara di kolam pendederan.
Cara Magek
Pembiakan ikan Nilem cara Magek menggunakan kolam pemijahan berukuran 0,25m x 0,60m dengan kedalaman 0,46m. Air masuk ke kolam pemijahan melalui kolam pengendapan. Antara kolam pengendapan, kolam pemijahan, dan kolam penetasan dihubungkan dengan pembuluh bambu. Ukuran kolam penetasan telur sekitar 4m2.
Induk ikan Nilem yang akan dipijahkan dilepas pada sore hari agar pada malan harinya induk melakukan pemijahan. Telur hasil pemijahan akan hanyut terbawa aliran ke kolam penetasan yang dasarnya berpasir. Jika pemijahan telah selesaialiran air dapat dihentikan atau diperkecil dan induk ikan Nilem dapat diambil untuk dikembalikan ke kolam pemeliharaan induk.
Setelah telur menetas, dalam waktu usia 5-7 hari, benih ikan sudah dapat dipungut dengan cara membuka pembuluh penguras, sehingga binih ikan terbawa aliran air dan ditampung dalam kantong kain halus. Kemudian, benih yang telah tertampung dalam kantong halus dipindahkan ke kolam pembesaran.
Cara Wanaraja
Pembiakan ikan Nilem cara Wanaraja merupakan modifikasi cara Tarogong. Namun, pada pembiakan cara Wanaraja ini kolam penetasan dihubungkan langsung dengan kolam pendederan atau pembesaran.
Kualitas Air
Ikan Nilem dapat dipelihara dengan baik di daerahyang berketinggian 150m -1000m dari permukaan laut. Daerah yang ideal untuk budidaya ikan Nilem adalah daerah yang memiliki ketinggian 800m dari permukaan laut dengan temperatur air 18oC-28oC(Murtidjo,2005). Selain itu, ikan Nilem merupakan ikan yang hidup pada daerah aliran yang deras. Sehinga kadar O2 terlarut juga harus diperhatikan. Oksigen terlarut sebanyak 1,0 mg/l merupakan konsentrasi minimum yang untuk mendukung ikan istirahat beberapa jam, dan jika dikeluarkan untuk beberapa hari pada konsentrasilarutan oksigen yang kurang dari 1,5 mg/l, kebanyakan ikan akan mati. Sehingga konsentrasi larutan oksigen di bawah 5,0 mg/l sebagai suatu hal yang kurang baik di kolam (Swingle, 1969 dalam Andajani, 2005).
Pengendalian Penyakit
Pengendalian pada kolam adalah cukup dengan memberi pengapuran pada kolam sebelum ikan dipelihara. Selain itu ada beberapa jenis obat yang sumbernya dapat dipeoleh dari alam, seperti rotenon, saponin, dan nikotin(Afrianto dan Liviawati, 2006).

Tidak ada komentar: